Rabu, 31 Januari 2018

Apakah Pernah Mengalami Kondisi Ini ??

Dalam rongga mulut manusia banyak flora normal. Flora normal tersebut dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit, namun bila terjadi gangguan system imun maupun perubahan keseimbangan flora normal mulut, maka flora normal tersebut dapat menjadi pathogen. Salah satu flora normal yang dapat dijumpai dalam rongga mulut yaitu jamur Candida. Spesies Candida merupakan organism komensal normal dalam rongga mulut dan ditemukan sebesar 17-25% dalam dasar mulut orang sehat dan pada semua orang sakit. Bila terjadi gangguan seperti yang disebut di atas, maka jamur Candida bisa menjadi pathogen sehingga terjadilah Candidiasis Oral. Secara umum diketahui ada 11 macam spesies Candida dan spesies yang dominan ditemukan adalah Candida albicans1.

Insidens Candida albicans dalam rongga mulut dilaporkan 45% pada neonatus, 45-65% pada anak sehat, 30-45% orang dewasa sehat, 50 – 65% pada pemakai gigi tiruan lepasan, 65 – 88% pada orang mengkonsumsi obat – obatan jangka panjang, 90% pada pasien leukemia akut yang menjalani kemoterapi, dan 95% pada pasien HIV/AIDS. Salah satu infeksi Candida albicans dalam rongga mulut adalah Angular cheilitis. Keadaan ini dapat terjadi biasanya pada penderita yaqng mempunyai kebiasaan menjilat bibir atau pada pasien usia lanjut dengan kulit yang kendur pada komisura mulut. Juga karena hilannya dimensi vertical pada 1/3 bawah muka karena hilannya susunan gigi atau8 pemasangan gigi palsu yang jelek dan oklusi yang salah2.
Angular cheilitis atau disebut juga peteche atau angular cheilitis merupakan suatu lesi yang ditandai dengan adanya fisur – fisur, pecah – pecah pada sudut bibir, berwarna kemerahan, mengalami ulserasi serta disertai rasa terbakar, nyeri dan rasa kering pada sudut mulut. Pada kasus yang parah, retakan tersebut dapat berdarah ketika membuka mulut  dan menimbulkan ulser dangkal atau krusta. Penyakit yang menyerang sudut mulut ini sering menimbulkan rasa nyeri dimana kelainan ini disebabkan oleh defisiensi vitamin B kompleks, defisiensi zat besi dalam darah, denture sore mouth dan beberapa faktor lainnya seperti bernafas melalui mulut, membasahi bibir dengan lidah, serta menjilat sudut mulut dengan lidah3.
Selain itu beberapa kasus angular cheilitis pada anak – anak dapat juga disebabkan karena sensitivitas anak – anak terhadap kontak agen – agen seperti mainan, makanan dan sinar matahari, alergi terhadap obat – obatan, bahan kosmetik, serta terapi antibiotic dalam waktu yang lama3.


Angular cheilitis merupakan kondisi umum, terhitung antara 0,7-0,38% lesi mukosa oral pada orang dewasa dan antara 0,2-15,1% pada anak – anak, walaupun kebanyakan lesi ini muncul pada orang dewasa 30-60 dan tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak – anak. Lesi ini memiliki prevalensi seluruh di dunia, dan baik terjadi pada laki – laki maupun perempuan. Angular cheilitis biasanya disebabkan oleh fungal dan bacterial pada bibir. Angular cheilitis muncul kemerahan pada fisur sudut bibir yang melibatkan pertemuan mukosa, dan biasanya disebabkan oleh candidiasis5.

Angular cheilitis menjadi masalah yang serius karena perkembangan yang cepat, karena itu tidak boleh ada keterlambatan dalam pengobatan jika gejala Angular cheilitis telah terjadi dan sangat jelas. Hal ini tidak terbatas pada kelompok usia tertentu, dimana kondisi ini telah mempengaruhi anak – anak dan orang tua. Baik anak – anak maupun remaja dapat terkena angular cheilitis tanpa melihat jenis kelamin. Usia yang paling sering ialah decade 4,5 dan 6. Kasus unilateral pada Angular cheilitis sering terjadi dikarenakan trauma perawatan dental dan trauma pada sudut bibir, sedangkan kasus bilateral terjadi jika penderita dengan penyakit sistemik seperti anemia, diabetes mellitus, dan infeksi monomial yang kronis. Lama penyakit bisa bervariasi dari beberapa hari hingga beberapa tahun, tergantung etiologinya6.
Penegakan diagnosis pada kasus didasarkan pada pemeriksaan klinis. Pemeriksaan klinis didapatkan gejala awal Angular cheilitis ialah rasa gatal pada sudut mulut dan terlihat tampilan kulit yang meradang dan bintik merah. Pada awalnya, hal ini tidak berbahaya, tetapi akan terasa nyeri pada sudut mulut dan mudah berdarah yang dikarenakan oleh gerakan mulut seperti tertawa atau pun berbicara. Tingkat keparahan inflamasi ini ditandai dengan retakan sudut mulut dan beberapa pendarahan saat mulut dubuka. Secara umum Angular cheilitis mempunyai sintom utama bibir kering, rasa tidak nyaman, adanya sisik – sisik dan pembentukan fisur (celah) yang di ikuti dengan rasa terbakar pada sudut mulut. Yang paling sering sebagai daerah eritema dan udema yang berbentuk segitiga pada kedua komisura atau dapat berupa atropi, eritema, ulser, krusta dn pelepasan kulit sampai terjadi eksudasi yang berulang. Reaksi jangka panjang, terjadi supurasi dan jaringan granulasi4.
Secara umum angular cheilitis yang berhubungan dengan defesiensi nutrisi, dapat terlihat penipisan papila lidah dikarenakan defesiensi besi. Lidah yang merah dan mengkilat pada pasien dengan defesiensi asam folat, atau lidah ungu kemerahan pada defesiensi vitamin B. Angular cheilitis yang disertai alopesia, diare dan ulserasi oral non spesifik yang biasanya terdapat di lidah dan mukosa bukal, dapat di duga dikarenakan defisiensi seng. Lesi terjadi bilateral yang biasanya meluas beberapa mm dari sudut mulut pada mukosa pipi dan ke lateral pada kulit sirkum oral 1-10 mm. Dasar lesi lembah, adanya fissure yang tajam, vertical dari tepi vermillion bibir dan area kulit yang berdekatan. Secara klinis, epitel pada komisura terlihat mengerut dan sedikit luka. Pada waktu mengerut, menjadi lebih jelas terlihat, membentuk satu atau beberapa fissure yang dalam, berulserasi tetapi tidak cendrung berdarah. Walaupun dapat berbentuk krusta yang bernanah pada permukaan, fissure ini melibatkan permukaan mukosa pada komisura didalam mulut, tetapi berhenti pada mucocutan junctional8.
Sumber : 
  1. Gayford JJ, Haikal R. 1990. Penyakit Mulut (Clinical Oral Medicine). Jakarta; EGC.
  2. Hari. S. 2010.Angular cheilitis; review of etiology and clinical management. K.D.J (Internet) Available at; http://trivandrum.co.uk. Accessed 20 November 2015.
  3. Burket’s. 1994. Oral Medicine Diagnosis and Treatment 9th ed. Philadelphia : J.B Lippicontt Co, 66-7
  4.  Lamey PJ, Lewis MA. 1989. Oral medicine in practice; angular cheilitis, Br Dent J; 167 (1): 15-18.
  5. Dowl W. Effect of angular cheilitis on children and teenagers. (internet). Available at URL ;http;//www.Ezine Articles/chilandac.html. Accesses 22 November 2015.
  6. Lubis S. 2006. Hubungan status gizi dengan keilitis angularis pada anak umur 6-12 tahun enam panti asuhan di Kota Madya Medan. Dentika J Dent. 11:117 - 180:1.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar