Kamis, 08 Februari 2018

Gigi Berlubang Itu Bisa Diatasi ?

Karies merupakan penyakit infeksi kronis pada anak-anak yang paling sering terjadi, yang disebabkan oleh interaksi bakteri, terutama Streptococcus mutans, dan makanan manis pada enamel gigi. S. mutans dapat menjalar dari ibu ke bayi selama di kandungan dan dapat terinkulasi bahkan ketika bayi belum memiliki gigi.Bakteri ini memecah gula untuk energi, yang menyebabkan kondisi asam di rongga mulut dan mengakibatkan demineralisasi enamel gigi dan menyebabkan karies gigi (Douglass JM, et al, 2005). Karies anak usia dini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di negara berkembang dan negara maju (Livny A, et al, 2007). 
Kesehatan mulut dan gigi telah mengalami peningkatan pada abad terakhir tetapi prevalensi terjadinya karies gigi pada anak tetap merupakan masalah klinik yang signifikan. Suwelo melaporkan prevalensi karies anak prasekolah di DKI Jakarta 89,16% dengan def-t rata-rata 7,02 ± 5,25 dan hasil survei di 10 provinsi (1984–1988) pada daerah kota, prevalensi karies anak umur 8 tahun 45,20% dengan DMF-T 0,94 serta menurut SKRT 1995, indeks DMF-T anak umur 12 tahun menunjukkan rata-rata 2,21 dengan angka prevalensi sebesar 76,9% (Octiara E, Roesnawi Y, 2001). Hal ini menunjukkan suatu keadaan kerusakan gigi yang hampir tanpa penanganan.Agar target pencapaian gigi sehat tahun 2010 menurut WHO bahwa angka DMF-T anak umur 12 tahun sebesar 1 dan didominasi oleh indikator F-T dapat tercapai maka diperlukan suatu tindakan pencegahan (Kristanti Ch, Rusiawati Y, 2002).

Karies gigi adalah penyakit yang dapat dicegah, dan dapat berhenti dan bahkan berpotensi sembuh selama masih di tahap awal.Setiap individu tetap rentan terhadap penyakit selama mereka hidup. Berdasarkan hasil RISKESDAS tahun 2013 dimana Jumlah sampel untuk usia ≥12 tahun, berjumlah 789.771 responden, Indeks DMF-T Indonesia sebesar 4,6 dengan nilai masing-masing:D-T=1,6; M-T=2,9; F-T=0,08; yang berarti kerusakan gigi penduduk Indonesia 460 buah gigi per 100 orang dan untuk daerah Sumatera barat sebesar 4,7 dengan nilai masing-masing D-T= 1,7; M-T=3,1; F-T=0,06 (RISKESDAS 2013).
Adanya hubungan sebab akibat terjadinya karies sering diidentifikasikan sebagai faktor resiko karies. Beberapa faktor tang dianggap sebagai faktor resiko adalah pengalaman karies, penggunaan flour, oral higiene, jumalah bakteri, saliva dan pola makan (Pintauli, 2008).
Saliva berperan penting pada proses karies. Fungsi saliva yang adekuat penting dalam pertahanan melawan serangan karies.Mekanisme fungsi perlindungan saliva meliputi aksi pembersihan bakteri, aksi buffer, aksi anti mikroba dan remineralisasi.Aksi pembersihan bakteri terjadi karena saliva mengandung molekul karbohidrat-protein (glikoprotein) yang menyebabkan beberapa bakteri mengelompok (aglutinasi) dan ditelan. Setiap hari, normalnya dibentuk 1,5 liter yang mengandung urea dan buffer kain yang membantu melautkan asam dalam plak (Putri, 2012).

 Sumber :
  1. Livny A, Assali R, Sgan-Cohen H D. 2007. Early Childhood Caries among bedoin community residing in the Eastern Outskirts Jerusalem. BMC Pub Res; 7 : 1-2.
  2. Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) 2013 (internet). 2013. (7 Maret 2017). Availablefrom:http://depkes.go.id/dowmloads/rikesds203/Hasil%20Rikesdas%202013.pdf
  3. Kristanti Ch, Rusiawati Y. 2002. Gigi sehat tahun 2000 dan tinjauan profil kesehatan gigi 1995. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia; 9(2):1–5.
  4. Putri, M. H, et al., 2012. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta: Penerbit Bku kedokteran ECG. Hal 5-10.