Dalam rongga mulut manusia banyak flora normal. Flora normal
tersebut dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit, namun bila terjadi
gangguan system imun maupun perubahan keseimbangan flora normal mulut, maka
flora normal tersebut dapat menjadi pathogen. Salah satu flora normal yang
dapat dijumpai dalam rongga mulut yaitu jamur Candida. Spesies Candida merupakan
organism komensal normal dalam rongga mulut dan ditemukan sebesar 17-25% dalam
dasar mulut orang sehat dan pada semua orang sakit. Bila terjadi gangguan
seperti yang disebut di atas, maka jamur Candida
bisa menjadi pathogen sehingga terjadilah Candidiasis Oral. Secara umum diketahui ada 11 macam spesies Candida dan spesies yang dominan
ditemukan adalah Candida albicans1.
Insidens Candida albicans dalam rongga mulut dilaporkan 45%
pada neonatus, 45-65% pada anak sehat, 30-45% orang dewasa sehat, 50 – 65% pada
pemakai gigi tiruan lepasan, 65 – 88% pada orang mengkonsumsi obat – obatan
jangka panjang, 90% pada pasien leukemia akut yang menjalani kemoterapi, dan
95% pada pasien HIV/AIDS. Salah satu infeksi Candida albicans dalam rongga mulut adalah Angular
cheilitis. Keadaan ini dapat terjadi biasanya pada penderita yaqng
mempunyai kebiasaan menjilat bibir atau pada pasien usia lanjut dengan kulit
yang kendur pada komisura mulut. Juga karena hilannya dimensi vertical pada 1/3
bawah muka karena hilannya susunan gigi atau8 pemasangan gigi palsu yang jelek
dan oklusi yang salah2.
Angular cheilitis atau disebut juga peteche
atau angular cheilitis merupakan
suatu lesi yang ditandai dengan adanya fisur – fisur, pecah – pecah pada sudut
bibir, berwarna kemerahan, mengalami ulserasi serta disertai rasa terbakar,
nyeri dan rasa kering pada sudut mulut. Pada kasus yang parah, retakan tersebut
dapat berdarah ketika membuka mulut dan
menimbulkan ulser dangkal atau krusta. Penyakit yang menyerang sudut mulut ini
sering menimbulkan rasa nyeri dimana kelainan ini disebabkan oleh defisiensi
vitamin B kompleks, defisiensi zat besi dalam darah, denture sore mouth dan
beberapa faktor lainnya seperti bernafas melalui mulut, membasahi bibir dengan
lidah, serta menjilat sudut mulut dengan lidah3.
Selain itu beberapa kasus angular
cheilitis pada anak – anak dapat juga disebabkan karena sensitivitas anak –
anak terhadap kontak agen – agen seperti mainan, makanan dan sinar matahari,
alergi terhadap obat – obatan, bahan kosmetik, serta terapi antibiotic dalam
waktu yang lama3.
Angular cheilitis merupakan kondisi umum, terhitung antara 0,7-0,38% lesi mukosa oral pada
orang dewasa dan antara 0,2-15,1% pada anak – anak, walaupun kebanyakan lesi
ini muncul pada orang dewasa 30-60 dan tidak menutup kemungkinan terjadi pada
anak – anak. Lesi ini memiliki prevalensi seluruh di dunia, dan baik terjadi
pada laki – laki maupun perempuan. Angular
cheilitis biasanya disebabkan oleh fungal dan bacterial pada bibir. Angular cheilitis muncul kemerahan pada
fisur sudut bibir yang melibatkan pertemuan mukosa, dan biasanya disebabkan
oleh candidiasis5.
Angular cheilitis menjadi masalah yang serius karena perkembangan yang cepat, karena itu
tidak boleh ada keterlambatan dalam pengobatan jika gejala Angular cheilitis telah terjadi dan sangat jelas. Hal ini tidak
terbatas pada kelompok usia tertentu, dimana kondisi ini telah mempengaruhi
anak – anak dan orang tua. Baik anak – anak maupun remaja dapat terkena angular
cheilitis tanpa melihat jenis kelamin. Usia yang paling sering ialah decade 4,5
dan 6. Kasus unilateral pada Angular
cheilitis sering terjadi dikarenakan trauma perawatan dental dan trauma
pada sudut bibir, sedangkan kasus bilateral terjadi jika penderita dengan
penyakit sistemik seperti anemia, diabetes mellitus, dan infeksi monomial yang
kronis. Lama penyakit bisa bervariasi dari beberapa hari hingga beberapa tahun,
tergantung etiologinya6.
Penegakan diagnosis pada kasus
didasarkan pada pemeriksaan klinis. Pemeriksaan klinis didapatkan gejala awal Angular cheilitis ialah rasa gatal pada
sudut mulut dan terlihat tampilan kulit yang meradang dan bintik merah. Pada
awalnya, hal ini tidak berbahaya, tetapi akan terasa nyeri pada sudut mulut dan
mudah berdarah yang dikarenakan oleh gerakan mulut seperti tertawa atau pun
berbicara. Tingkat keparahan inflamasi ini ditandai dengan retakan sudut mulut
dan beberapa pendarahan saat mulut dubuka. Secara umum Angular cheilitis mempunyai sintom utama bibir kering, rasa tidak
nyaman, adanya sisik – sisik dan pembentukan fisur (celah) yang di ikuti dengan
rasa terbakar pada sudut mulut. Yang paling sering sebagai daerah eritema dan
udema yang berbentuk segitiga pada kedua komisura atau dapat berupa atropi,
eritema, ulser, krusta dn pelepasan kulit sampai terjadi eksudasi yang
berulang. Reaksi jangka panjang, terjadi supurasi dan jaringan granulasi4.
Secara umum angular cheilitis yang berhubungan dengan defesiensi nutrisi, dapat terlihat penipisan papila
lidah dikarenakan defesiensi besi. Lidah yang merah dan mengkilat pada pasien
dengan defesiensi asam folat, atau lidah ungu kemerahan pada defesiensi vitamin
B. Angular cheilitis yang disertai
alopesia, diare dan ulserasi oral non spesifik yang biasanya terdapat di lidah
dan mukosa bukal, dapat di duga dikarenakan defisiensi seng. Lesi terjadi
bilateral yang biasanya meluas beberapa mm dari sudut mulut pada mukosa pipi
dan ke lateral pada kulit sirkum oral 1-10 mm. Dasar lesi lembah, adanya
fissure yang tajam, vertical dari tepi vermillion bibir dan area kulit yang
berdekatan. Secara klinis, epitel pada komisura terlihat mengerut dan sedikit
luka. Pada waktu mengerut, menjadi lebih jelas terlihat, membentuk satu atau
beberapa fissure yang dalam, berulserasi tetapi tidak cendrung berdarah.
Walaupun dapat berbentuk krusta yang bernanah pada permukaan, fissure ini
melibatkan permukaan mukosa pada komisura didalam mulut, tetapi berhenti pada
mucocutan junctional8.
Sumber :
- Gayford JJ, Haikal R. 1990. Penyakit Mulut (Clinical Oral Medicine). Jakarta; EGC.
- Hari. S. 2010.Angular cheilitis; review of etiology and clinical management. K.D.J (Internet) Available at; http://trivandrum.co.uk. Accessed 20 November 2015.
- Burket’s. 1994. Oral Medicine Diagnosis and Treatment 9th ed. Philadelphia : J.B Lippicontt Co, 66-7
- Lamey PJ, Lewis MA. 1989. Oral medicine in practice; angular cheilitis, Br Dent J; 167 (1): 15-18.
- Dowl W. Effect of angular cheilitis on children and teenagers. (internet). Available at URL ;http;//www.Ezine Articles/chilandac.html. Accesses 22 November 2015.
- Lubis S. 2006. Hubungan status gizi dengan keilitis angularis pada anak umur 6-12 tahun enam panti asuhan di Kota Madya Medan. Dentika J Dent. 11:117 - 180:1.





